Date : 2026-08-27 16:08:15
Ditulis oleh: Samuel Gandasaputra — PT. Hanna Instruments Indotama

Turbidity atau kekeruhan merupakan salah satu parameter kualitas air yang paling mudah dikenali. Air dengan turbidity tinggi akan terlihat lebih keruh karena adanya partikel-partikel tersuspensi di dalamnya.
Namun, turbidity bukan hanya berkaitan dengan tampilan air. Pengukuran kekeruhan memiliki peran penting dalam berbagai aplikasi, mulai dari air minum, pengolahan air limbah, pemantauan lingkungan, hingga industri makanan dan minuman.
Dalam artikel ini, kita akan membahas apa itu turbidity, cara pengukurannya, perbedaan metode ISO dan EPA, serta beberapa tips untuk mendapatkan hasil pengukuran yang akurat.

Secara sederhana, turbidity adalah tingkat kekeruhan suatu cairan akibat adanya partikel tersuspensi.
Partikel tersebut dapat berupa:
Semakin banyak partikel tersuspensi di dalam sampel, umumnya semakin tinggi nilai turbidity yang terukur.
Turbidity merupakan pengukuran optik. Instrumen mengarahkan cahaya ke dalam sampel kemudian mendeteksi bagaimana cahaya tersebut dihamburkan oleh partikel di dalamnya.
Perlu diketahui: Turbidity tidak sama dengan Total Suspended Solids (TSS). Turbidity merupakan pengukuran optik terhadap kekeruhan, sedangkan TSS mengukur massa padatan tersuspensi secara gravimetri.
Turbidity merupakan salah satu parameter penting untuk mengevaluasi kualitas air dan efektivitas suatu proses.

Dalam pengolahan air minum, salah satu tujuan utama proses treatment adalah mengurangi turbidity.
Partikel tersuspensi seperti tanah dan alga dapat mengurangi efektivitas proses disinfeksi. Partikel tersebut juga dapat menjadi media pembawa mikroorganisme.
Oleh karena itu, turbidity dapat diukur pada beberapa tahapan pengolahan untuk mengevaluasi efektivitas proses dan kualitas air yang dihasilkan.
Pengukuran turbidity dapat digunakan untuk membantu memonitor perubahan jumlah partikel tersuspensi selama proses pengolahan air limbah.
Perubahan nilai turbidity dapat memberikan indikasi mengenai kondisi sampel maupun efektivitas proses treatment.
Pada sungai, danau, maupun perairan lainnya, peningkatan kekeruhan dapat menjadi salah satu indikator adanya perubahan kualitas air.
Sebagai contoh, setelah hujan deras, limpasan dari area pertanian, konstruksi, maupun tanah terbuka dapat membawa sedimen dalam jumlah besar ke perairan.
Turbidity juga digunakan dalam berbagai aplikasi food & beverage, seperti minuman, wine, serta proses pengolahan gula.
Pada pengolahan gula, misalnya, pengukuran turbidity dapat membantu mengevaluasi kejernihan larutan selama proses klarifikasi dan filtrasi.

Turbidity dapat diukur menggunakan beberapa metode, mulai dari pengamatan visual hingga menggunakan instrumen.
Untuk pengukuran kuantitatif, salah satu metode yang paling umum adalah menggunakan turbidity meter atau nephelometer.
Turbidity meter menggunakan:
Sumber cahaya → Sampel → Hamburan cahaya → Detektor
Ketika cahaya melewati sampel, partikel tersuspensi akan menghamburkan sebagian cahaya tersebut.
Detektor kemudian mengukur jumlah cahaya yang dihamburkan dan instrumen mengubahnya menjadi nilai turbidity. Pada sistem nephelometric, detektor umumnya ditempatkan pada sudut 90° terhadap sumber cahaya.
Anda mungkin menemukan beberapa satuan ketika melakukan pengukuran turbidity, antara lain:

Karena itu, jangan hanya melihat rentang pengukuran ketika memilih turbidity meter. Perhatikan juga metode atau standar yang digunakan oleh aplikasi Anda.
Ini juga menjawab pertanyaan customer yang sangat umum: “Kenapa ada turbidity meter ISO dan EPA?”
Turbidity meter yang mengikuti metode EPA 180.1 menggunakan sumber cahaya tungsten dengan detektor pada sudut sekitar 90°.
Karakteristik utamanya:
Instrumen yang mengikuti ISO 7027 menggunakan sumber infrared sekitar 860 nm.
Karena menggunakan infrared, pengaruh warna sampel dapat dikurangi. Hal ini membuat metode ISO sangat berguna untuk berbagai jenis sampel, termasuk sampel yang memiliki warna.

Hanna Tip: Pilih turbidity meter berdasarkan kebutuhan metode dan aplikasi, bukan hanya berdasarkan range pengukurannya.
Secara umum, pengukuran menggunakan turbidity meter dapat dilakukan dengan beberapa langkah sederhana:
Untuk pengukuran turbidity yang sangat rendah, kondisi cuvette menjadi semakin penting karena goresan, sidik jari, atau ketidaksempurnaan permukaan dapat memengaruhi cahaya yang diterima detektor.

Cahaya harus melewati cuvette sebelum mencapai sampel. Karena itu, kondisi cuvette dapat memengaruhi hasil pengukuran.
Goresan dapat menghamburkan cahaya dan menyebabkan nilai turbidity terbaca lebih tinggi dari kondisi sebenarnya.
Ganti cuvette apabila terdapat goresan yang terlihat atau noda yang sulit dibersihkan.
Untuk pengukuran turbidity rendah, goresan sangat kecil pada cuvette pun dapat memengaruhi hasil.
Silicone oil dapat digunakan untuk membantu menutupi ketidaksempurnaan kecil pada permukaan cuvette karena memiliki indeks refraksi yang serupa dengan kaca.
Gunakan hanya sedikit silicone oil kemudian lap menggunakan kain bebas serat hingga permukaan terlihat hampir kering.
Silicone oil tidak dapat memperbaiki goresan besar. Cuvette dengan kerusakan yang terlihat sebaiknya diganti.

Hasil pengukuran yang akurat dimulai dari kalibrasi yang baik.
Gunakan turbidity standard yang sesuai dengan instrumen, belum kedaluwarsa, dan disimpan sesuai rekomendasi.
Standar AMCO-AEPA-1 tersedia sebagai alternatif yang stabil dan praktis dibandingkan menyiapkan standar formazin secara manual.
Noda pada cuvette dapat menyerap atau menghamburkan cahaya sehingga turbidity meter tidak hanya membaca sampel, tetapi juga kontaminasi pada permukaan cuvette.
Pastikan cuvette selalu dalam kondisi bersih sebelum digunakan.
Pada sampel dengan turbidity tinggi, semakin banyak cahaya yang dihamburkan, diserap, atau dipantulkan oleh partikel di dalam sampel. Kondisi ini dapat menyebabkan nilai turbidity berada di luar rentang pengukuran instrumen.
Beberapa turbidity meter menggunakan ratio method, yaitu beberapa detektor pada sudut berbeda untuk membantu mengompensasi cahaya yang hilang dan memperluas kemampuan pengukuran pada turbidity tinggi.
Apabila nilai sampel melebihi rentang pengukuran turbidity meter, sampel dapat diencerkan menggunakan Aquades, air distilasi, purified water, kemudian hasil pengukuran dikalikan dengan faktor pengenceran (dilution factor/DF).
Berikut contoh prosedur pengenceran sampel dengan Dilution Factor 1:10:

Sampel dingin dapat menyebabkan terbentuknya kondensasi pada bagian luar cuvette.
Kondensasi tersebut dapat mengganggu jalur cahaya dan menyebabkan hasil pengukuran yang tidak akurat.
Sebelum melakukan pengukuran, periksa dan lap bagian luar cuvette menggunakan kain bersih bebas serat.

Tidak semua aplikasi turbidity membutuhkan instrumen yang sama.
Sebelum memilih alat ukur kekeruhan atau turbidity meter, pertimbangkan:
Hanna Instruments menyediakan berbagai pilihan turbidity meter untuk kebutuhan laboratorium, pengolahan air, lingkungan, dan industri.
Pemilihan turbidity meter yang tepat bergantung pada jenis sampel, rentang pengukuran, dan metode yang digunakan.
Konsultasikan kebutuhan pengukuran turbidity Anda dengan tim Transindotama Sinar Perkasa. Kami dapat membantu menentukan turbidity meter, calibration standard, cuvette, dan aksesori yang sesuai dengan aplikasi Anda.